CERPEN "SIAPAKAH MEREKA ITU KEK ?"
Cerpen ini saya ikutkan lomba menulis cerita anak temah Pahlawan lokal di Sip Publishing, Entahlah belum tahu bisa masuk kurasi atau tidak. Sungguh saya senang menulis hanya karena senang begitu saja dan kebetulan punya banyak waktu untuk menulis. Kata orang bijak hidup itu jalani saja tanpa keinginan yang muluk-muluk, tidak harus kaya, tidak harus terkenal, tidak harus punya jabatan tinggi dan terhormat. Bersyukur saja atas apa yang diberikan Allah swt kemudian jalanai.
SIAPAKAH MEREKA ITU KEK ?
Sunyoto Sutyono
Kali ini kakekku mengajak jalan-jalan melihat patung di Pintu gerbang masuk
kota Jember. Disana ada sebuah patung monumen perjuangan pahlawan kota Jember,
yang banyak orang jember juga tidak tahu patung siapa itu.
”Patung siapa kek?” tanya Rengga serius.
“Ceritakan Kek ?” sela Larasati adik Rengga. Sambil perjalanan ke tujuan,
Kakek mulai menceritakan sejarahnya.
Pada tahun 1949 terjadilah perang agresi militer II diseluruh Indonesia.
KNIL (tentara bentukan kolonial Belanda) tidak mau hengkang dari RI. Mereka berusaha
mengusik kehidupan damai bangsa Indonesia. Kehidupan yang mulai tenang
menikmati kemerdekaan. Tiba-tiba rakyat di tindas, bila membangkan dibunuh atau
ditangkap untuk disiksa. Tidak
terkecuali di Jemberpun juga berkobar perang melawan penjajah Belanda untuk
mempertahankan kemerdekaan RI.
Di Jember Letkol Mochammad Sroedji adalah Komandan Brigade III Damarwulan,
sosok pemimpin yang mempunyai tanggung jawab besar, terlibat dalam pertempuran sengit di Desa
Karang Kedawung Kec Mumbulsari kabupaten Jember. Peristiwa itu terjadi pada 08-02-1949.
Seratus orang prajurit pasukan Damarwulan, yang di pimpin Letkol Moch Sroedji ditugaskan oleh jendral Soedirman untuk
bergerilya dari Blitar sampai ke Jember. Dalam mengemban tugasnya Letkol Moch
Sroedji bersama pasukannya, sangat berjasa ikut mempertahankan Kemerdekaan RI
khususnya di wilayah Jawa Timur.
Ketika sedang beristirahat dari perjalanan jauh, di desa Karang Kedawung
Mumbulsari Jember, terjadilah pembantaian terhadap Masyarakat sipil. Para
prajurit dibawah pimpinan Letkol Mochamamad Sroedji tiba-tiba sudah dikepung
oleh tentara Belanda. Dalam keadaan terkepung Letkol Moch Sroedji memerintahkan
seluruh anggota pasukannya melindungi diri dan Masyarakat. Masyarakat Karang Kedawung yang panik dan pasukan
brigade III Damarwulan yang dalam kondisi lelah, menyambut gempuran senjata
musuh dengan persenjataan lengkap dan jumlah prajurit lebih banyak. Perang
sengit yang tidak seimbang tidak terelakkan. Pasukan prajurit Damarwulan tampil
bersama masyarakat karang kedawung, bertempur dengan senjata seadanya, berusaha
melawan musuh demi mempertahankan kemerdekaan RI yang dinikmati baru selama
empat tahun. (1945-1949).
Dalam peperangan itu
banyak wanita yang membantu para lelaki tua muda, ikut berjuang di medan perang. Wanita
yang tidak ikut berperang melarikan diri semampunya mencari selamat. bersama
anak-anak. Para pejuang masyarakat karang kedawung dan para tentara prajurit
yang bersenjata seadanya terkepung, banyak yang tewas terbunuh oleh tentara
Belanda. Letkol Moch Sroedji yang berada di garda terdepan terkena tembakan di
pundaknya. Dengan senjata pistol ditangannya beliau mengamuk membabi buta
menembaki para musuh.
Letkol Raden Mas Soebandi seorang dokter tentara, yang bertugas sebagai tenaga
kesehatan prajurit, ikut dalam pasukan Damar Wulan. Beliau berhasil lolos dari
kepungan tantara Belanda. Namun menyaksikan sahabatnya Letkol Moch Sroedji
tertembak, Dr Soebandi kembali. berusaha membopong sang komandan Letkol Moh
Sroedji. Dalam kondisi terluka dan dibopong beliau masih tetap menembakkan pistolnya
kearah pasukan Belanda. Malang nasib Letkol dr RM Soebandhi yang membopong Letkol
Moch Sroedji diberondong peluru panas sampai keduanya wafat dalam kondisi
berpelukan. Beliau
berdua gugur sebagai pahlawan gagah berani mempertahankan negeri Indonesia tercinta.
”Nah itu patungnya
yang menggambarkan tertembaknya Letkol Moch Sroedji sedang di papah oleh Letkol
Dr Raden Mas Soebandi.” kakek menunjuk
patung itu.
”Lalu cerita selanjutnya bagaimana Kek?” tanya Rengga kelas enam MI, mulai
tertarik.
”Lanjutkan kek, ceritanya.” rengek Larasati cucu kakek kelas empat MI. Kakek melanjutkan ceritanya sambil perjalanan
pulang.
Untuk mengenang jasa-jasa beliau,
pemerintah mengabadikan dalam bentuk patung pahlawan pejuang Jember Letkol
(anumerta) Mochammad Sroedji dibopong Letkol Dr Soebandi. Patung monumental itu
ditempatkan di gerbang masuk kota
Jember, jalan Hayam Wuruk kecamatan Kaliwates kabupaten Jember, yang kita
saksikan tadi.
”Ada satu lagi patung Letkol Infantri (anumerta) Mochammad Sroedji
ditempatkan di depan kantor PEMDA Kabupaten Jember. Dan untuk mengenang jasa dr
Soebandi pemerintah mengabadikan namanya sebagai nama rumah sakit daerah
terbesar di Jember yaitu RSUD dr SOEBANDI Jember, jalan dr Soebandi di
kecamatan Patrang kab Jember, tak jauh dari rumah kita itu. tahu kan?” Sampai
di alun-alun Jember, kekek menunjukkan patung Letkol Infantri (Anumerta) Mochammad
Sroedji di depan PEMDA. Kakek melanjutkan ceritanya.
Saat itu jasad Letkol Infantri
(Anumerta) Mochammad Sroedji dan Letkol
Dr Raden Mas Soebandi dimakamkan di TPU Tunjung Kelurahan Jember Lor, Kecamatan
Patrang kabupaten Jember. Dengan dibangunnya TMP Jember di Patrang, maka jasad Dr
Soebandi dipindahkan ke TMP Patrang. Sedang jasad Moch, Sroedji tetap dimakamkan
di TPU Tunjung. Mungkin sebelum
meninggal beliau berwasiat ingin berjuang, mati, dimakam bersama rakyat. Entahlah
ada misteri apa tentang ini. (Snt)
Jember,
Oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar